Sobat remaja, keremajaan secara fisiologis ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki dan haid alias menstruasi bagi perempuan. Dalam istilah fiqihnya disebut baligh. Terhadap tindakan apapun yang dilakukannya, seseorang sudah baligh dia diharuskan bertanggung jawab. Berbuat baik dia akan dapat pahala. Sebaliknya, bertindak tidak baik atau bermaksiat, maka dia akan dapat dosa.
Jadi, bagi sobat remaja putrid, yang sudah mengalami menstruasi berarti itu sudah baligh dan harus bertanggung jawab dengan tindakannya. Meskipun kamu baru berusia 12 atau 13 tahun. Sedangkan kamu, sobat pria, setelah mimpi basah pertama itulah awal mula kamu bertanggung jawab terhadap semua tingkah lakumu.
Nah, dari sini nih, karena sudah bertanggung jawab kamu nggak boleh main sembarangan dengan apapun yang kamu lakukan. Jangan aji mumpung untuk hal-hal negatif dan tiada gunanya bagi diri sendiri, ortu maupun orang lain di dunia apalagi akhirat. Jangan mumpung muda, puas-puasin yang happy-happy biar gak nyesel saat tua. Puas-puasin dugem mumpung masih sempat, puas-puasin pacaran mumpung belum kawin. Pokoknya, puas-puasin terus sampai abisss… !
Padahal, katanya nih, maksiat itu gak memberikan kepuasan (sebab gak ngalamin sampai segitu siih. Hehe) kayak minum air laut, semakin diteguk semakin haus, trus ko’it karena kehausan. Hiii… ngeri, naudzubillah, deh. Eh… kalo aji mumpungnya untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat, boleh kan??
Wah, bagus banget, jempol dua deh, kalo perlu nih empat pakai jempol kaki. Hehe ! Di dunia bisa mengukir prestasi setinggi bintang di langit dan di Akhirat ngumpulin pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya disisi Allah. Ini baru bijak dan cerdas memanfaatkan peluang dan kesempatan. Kelak, di dunia maupun Akhirat, kita mudah mempertanggungjawabkannya. Yaa… moga-moga deeh, karena memang ngelakuin gak semudah ngomonginnya. Untuk membakar semangat, sekaligus agar kita ati-ati banget sama waktu remaja dan kesempatan yang ada di dalamnya, cobalah resapi wasiat junjungan kita Rosulullah SAW, “Tidaklah bergeser telapak kaki seseorang hamba pada Hari Kiamat sehingga mereka ditanya tentang lima perkara ; tentang usianya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudahnya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, serta tentang ilmunya, apa yang dia amalkan??” (HR. Tirmidzi dan Ad-Darimi dari Ibnu Mas’ud)
Karena gak semudah ngomonginnya, kita harus ekstra hati-hati njagain masa remaja. Minimal, ini terkait dengan dua hal yang pasti, yaitu kesehatan dan waktu luang. Di usia sekarang, kita kan lagi seger-segernya niih. Fisik lagi kuat-kuatnya, ‘sekel’ dah. Pikiran juga lagi fresh-fresh-nya, gagasan lagi antri-antrinya. Kalo di manfaatin maksimal, insyaallah top abiss lah. Sayangnya yaa, kenyataan kerap berbalik. Potensi kayak gitu di biarin begitu aja berlalu. Biasanya ( kata orang juga sih ) nyeselnya ketika sudah ada tanggung jawab lain di pundak. Misalnya sudah ada tanggungan harus menghidupi keluarga, cari kerja yang baik kesana kemari susah, kalah bersaing sama yang masih fresh-fresh. Itu baru di dunia, yang mungkin masih bisa ngejar untuk memperbaikinya. Nah, kalo sudah di Akhirat, habislah kesempatan. Nggak bisa dikejar lagi. Benar banget apa yang di wasiatkan Rosul kita, “Dua nikmat yang banyak disia-siakan oleh manusia, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhori). Inilah yang mengharuskan kita kudu ekstra ati-ati. Kesia-siaan akan dialami oleh kebanyakan manusia. Naudzubillah, semoga kita nggak masuk dalam kebanyakan itu. Renungkan kisah berikut.
Seorang lelaki renta tengah menyusuri sebuah sungai. Disana ia menjumpai seorang bocah kecil sedang berwudhu sambil menangis. Lelaki tua itu bertanya, “Nak, kenapa kamu menangis?” Bocah menjawab, “Wahai paman, ketika aku membaca Al-Qur’an, aku temukan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, perihara dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahrim : 6) “ Timbullah ketakutanku akan dilemparkan ke dalam api Neraka”.
Lelaki itu menukas, “Wahai anakku, janganlah kamu takut. Kamu tidak akan dicampakkan ke dalam api Neraka, sebab kamu belum baligh. Kamu tidak layak dimasukkan ke dalam Neraka.” Anak itu menjawab, “Wahai paman, engkau kan berakal. Apakah engkau tidak tahu bahwa orang yang ingin menyalakan api, ia memasukkan kayu bakar yang kecil lebih dahulu, baru kemudian ia memasukkan kayu yang besar?”
Mendengar penuturan polos si bocah, dia menangis seraya berkata, “Sesungguhnya bocah kecil ini lebih ingat kampong Akhirat daripada aku. Dunia telah membawaku jauh melangkah.”
Akhirnya pak tua itu tersadar dari kelalaian yang panjang, sepanjang umur yang telah dia habiskan. Beruntung, di usianya yang senja ia ‘ditegur’ oleh seorang bocah kecil. Beruntung pula, karena ‘teguran’ itu telah menyadarkan dirinya untuk tidak tersesat selamanya. (Dikutip dari majalah Tarbawi)
Sobat remaja, menyia-nyiakan waktu dan kesempatan selalu berujung pada penyesalan. Penyesalan yang sulit diganti dengan apapun. Karena waktu dan kesempatan yang telah lewat tidak mungkin ditarik kembali. Hingga saat ini mungkin sudah banyak yang tersiakan. Melalui bimbingan-Nya kita memohon memperkecil penyesalan itu dengan memperbaikinya sejak saat ini.







0 komentar: on "Masa Remaja Dalam Islam"
Posting Komentar