Minggu, 07 Februari 2010

LIFESTYLE | ASTAGA.COM LIFESTYLE ON THE NET | MUSIBAH

Musibah merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa arab. Derivasi musibah terambil dari akar kata asyaba-yushibu-mushibah, berarti al-baliyyah wakul lu amrin makruhin. Secara harfiah, berarti bala, mala petaka, dan segala sesuatu yang dibenci, tidak disukai.

Dalam pengertian yang lebih luas, musibah adalah sesuatu yang sangat tidak oleh setiap orang. Pemahaman yang lebih luas dari musibah adalah coba’an, ujian, marabahaya, kecelakaan, karena semua kata tersebut mengandung sesuatu yang tidak diharapkan manuia, yaitu sesuatu, kondisi, atau hal-hal yang ditakutkan kedatangannya.


Dalam Al-Qur’an dan Hadits disebutkan jenis-jenis cobaan yang sering kali menimpa manusia adalah perasaan takut, kelaparan, kematian, kemiskinan, kebodohan, atau kalah dalam peperangan. Semuanya adalah musibah. Jika diperhatikan secara cermat, cobaan, ujian, fitnah, yang datangnya dari Allah, sebagian besar akibat dari tangan-tangan manusia sendiri yang cenderung merusak. Ketika suatu musibah datang tidak seorangpun yang dapat menolaknya.

Musibah dapat terjadi dimana-mana dan dalam bentuk apa saja yang dibenci manusia. Musibah mengakibatkan penderitaan, kesusahan, kesedihan, kesempitan, dan kekurangan. Hanya saja, manusia memiliki kapasitas yang berbeda dalam menyikapi datangnya musibah. Orang munafik akan bersikap menurut dorongan hawa nafsunya dan berujung pada keputusasaan. Sedangkan, orang yang beriman menyikapi sesuai dengan nurani yang bersumber dari iman yang benar dan Allah akan member hidayah di dalam hatinya. Oleh karena itu, sikap orang yang beriman ialah bersabar dan berserah diri kepada-Nya di kala ditimpa musibah.

Orang beriman menyakini dengan sepenuh hati bahwa segalanya akan dikembalikan kepada-Nya dan akan berucap Innalillahi wa inna ilaihiroji’un. “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”. Ungkapan ini disebut istirjaa’ yang bermakna pernyataan kembali kepada Allah. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar kami menyatakan (baik-buruknya) keadaanmu” (QS. 47:31).

Berkenaan dengan musibah, Syeikh ibnu Athoillah, seorang ulama sufi berkata, “Allah Maha Mengetahui bahwa engkau tidak dapat menerima nasihat yang hanya berupa kata-kata, karena itulah Allah merasakan kepadamu rasa pahitnya (berupa musibah) untuk memudahkanmu cara meninggalkannya”.

Sedangkan, kata al-Junaid, “Musibah merupakan lampu penerang bagi orang yang arif, sebuah keterjagaan bagi para pemula dan sebuah pembinasaan bagi orang yang lalai”.

Karena itulah, Imam Jakfar al-Shadiq sering berdo’a tatkala musibah menimpanya. “Ya Allah ! Aku memohon semoga musibah yang menimpaku ini menjadi jalan bagi peningkatan akhlak dan bukan pembangkit kemurkaan-Mu”. Musibah yang menimpa seseorang dapat merupakan jalan untuk bertobat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Musibah penyakit misalnya, Rosulullah SAW bersabda, “sakit selama sehari merupakan tobat selama satu tahun”.

Rosulullah telah mencontohkannya, beliau memperbanyak berdzikir dan berdo’a tatkala musibah menimpanya. Sebab, dengan berdzikir dan berdo’a, jiwa kita semakin dekat dengan kehadiran-Nya.



Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "LIFESTYLE | ASTAGA.COM LIFESTYLE ON THE NET | MUSIBAH"

Posting Komentar