Waah.. mulai kebakaran juga nih. Emang ya sobat remaja, kita kadang butuh banget di panas-panasin, supaya semangat harus gitu kali ya. Yang penting kan rasa pingin tahunya semakin besar, semakin siip. Tapi, semangat juga harus didukung oleh niat yang benar looh, biar nggak sia-sia dunia Akhirat.
Menuju semangat yang tidak pernah padam, seorang muslim harus menggali motivasinya dari ajaran islam. Dan itu dapat kamu peroleh dari Al-Qur’an maupun Hadits Rosulullah SAW. Makanya, kamu-kamu harus rajin baca Al-Qur’an dan Hadits, agar lebih mendalam memahaminya, cari guru atau para ustadz, jadi kamu bisa dengerin penjelasan di majlis ta’limnya maupun tanya-tanya langsung. Ok, kita coba menumbuhkan semangatnya bareng-bareng yuk !
>> Menghayati Pentingnya Hidup
( Aduuh.. kok filosofis banget yaa? ) Eee… enggak, filosofis apaan?? Lagian kalo iya, kenapa?? Filosofis kan untuk mereka yang tua-tua dan suka mikir yang rumit-rumit, gitu maksudnya?? Cermati lagi deh, kisah bocah kecil dan orang tua di postingan sebelumnya. Bocah kecil aja mikir kayak gitu. Maka kita seharusnya lebih dari itu ! kecuali mau niru pak tua yang nyeselin hidupnya itu. ( Weeh.. tentu nggak lah ). Trus, menghayati pentingnya hidup itu kayak apa ya?? Nah, gitu dong, penasaran dikit. Semakin penasaran semakin bagus. Tinggal kitanya aja, mau apa nggak?? Yakin deh, kalau sudah memahami bener, insyaallah nggak seperti yang kamu bayangin.
Menghayati pentingnya hidup adalah menyadari dengan sebenarnya bahwa hidup diri kita berharga. Waktu kita berharga, kesehatan kita berharga, cita-cita dan harapan kita juga sangat berharga. Itu nanti yang menjadikan kita ingin menjalaninya dengan hal-hal yang berharga pula. Saking berharganya, kita pengen banget melakukan yang terbaik. Allah menciptakan kita untuk jadi makhluk yang berharga itu.
Jadi, ini serius banget, bukan untuk main-main “ Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami meciptakan kamu secara main-main (saja)? “. (QS. Al-Mukminun :115) Kita aja yang nanggapinya nggak berharga.
Kamu renungkan deh! Berharga enggak kalo habisin waktu dengan melototin TV, keluyuran ke mall-mall, keliling-keliling ke toko-toko lihat model-model baju, model-model sepatu, ngobrol-ngobrol tak tentu arah semalem suntuk, kongkow-kongkow?? Alasannya, iseng-isenglah, ngisi waktu luanglah, atau mengurangi stress lah. Repotnya, iseng-iseng kok rutin, ngisi waktu luang kok seperti itu, stress kok hampir tiap hari. Tuh, lama-lama bukan sekedar iseng, ngisi waktu luang atau ngilangin stress, tapi kebutuhan. Kalo gak ngelakuin, ya ketagian. Tahu gak?? Itulah yang justru banyak dilakukan. Banyak lho, waktu-waktu kita yang losses banget. Kita disibukin dengan hal-hal yang gak ada artinya. Imam Hasan Al-Bashri member nasihat, “Bila kamu kumpulkan dunia seluruhnya, tidak akan dapat menggantikan meski satu hari saja yang kamu sia-siakan. Maka, janganlah anda jual hari ini dan jangan ganti hari ini dengan dunia yang tanpa faedah.” (Ujian Di Akhirat dan Kunci Jawabannya)
>> Menghayati Berharganya Waktu
Sobat remaja, ada pepatah bilang “waktu laksana sebilah pedang”. Jika pemiliknya terampil banget menggunakannya, pedang itu menjadi senjata yang ampuh untuknya. Sebaliknya, kalo ceroboh dan penggunaannya gak terampil, pedang itu akan melukai bahkan menebas lengannya. Saking pentingnya waktu, Allah sebagai Pencipta dan Penguasa waktu berkali-kali bersumpah dengan waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 1-3)
Waah, terkait dengan waktu, ternyata banyak orang yang merugi. Dan lagi, waduuh… bueraat banget istiqomah jaga waktu agar terpenuhi dengan hal-hal positif. Kita pengen banget jaga waktu. Tapi, gimana ya?? Emang sih, pengen aja gak cukup. Perlu tekad kuat dan kesabaran ekstra. Yang agak mudah dilakukan, bergaul dengan orang yang pinter jaga waktunya. Untuk nyemangatin, kita bisa simak pengalaman Abu Wafa’ Ali bin Abu Aqil, “Sungguh aku tidak pernah membiarkan diriku membuang-buang waktu, meski hanya satu jam dalam hidupku. Sampai-sampai bila lidahku berhenti berdzikir dan berdiskusi, pandangan mataku juga berhenti membaca, aku segera mengaktifkan pikiranku kala istirahat sambil berbaring. Ketika aku bangkit, pasti sudah terlintas sesuatu yang akan kutulis. Dan ternyata, aku mendapati hasratku untuk belajar pada umur delapan puluh tahun, lebih besar daripada hasrat belajarku pada umur dua puluh tahun !”
Beliau juga bercerita, “Dengan segala kesungguhan, aku juga memendekkan waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih memilih makan biskuit yang dilarutkan dengan air daripada roti. Alasannya, karena kedua makanan tersebut berbeda ketika di kunyah. Agar selisih waktunya bisa kugunakan untuk membaca dan menyalin berbagai hal yang bermanfaat, yang belum sempat kuketahui.”
(Waduh, ideal banget contohnya, pasti susah nih ngikutinnya). Heh, jangan grogi dulu. Contohlah tekadnya man !!! Orang memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing. Maksimalin tuh kelebihan kamu. Memang nggak akan begitu saja bisa ngelakuin disiplin waktu secara tiba-tiba. Ada prosesnya bo’. Kalo perubahannya terlalu drastis, khawatirnya malah gak istiqomah. Dikit-dikit dulu yang penting terus-menerus. Demikian nasihat Nabi kita, “Amalan yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin dilakukan pelakunya, meskipun jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhori-Muslim)
Itung deh, umur kita kan 24 jam sehari. Dikurangin jam tidur sudah 5 atau 6 jam hilang, nggak produktif. Belum lagi kalo tidurnya 8 jam atau lebih dari itu. Sepertiga umur bisa habis untuk tidur. Ruginya bukan main. Sisanya kemana?? Apakah kita maksimal menggunakan waktu ketika kita sadar dan dalam kondisi bugar?? Agar mudah untuk komitmen dan istiqomah menjaga waktu, ada beberapa tips yang bisa dicoba :
1). Biasakan memulai hari dengan bertekad untuk mengisi hari dengan hal-hal positif. Tekad diiringi dzikir dan do’a di pagi dan sore hari.
2). Membiasakan merencanakan apa yang akan dilakuin hari itu, sekaligus menyeleksi mana yang tidak produktif dan nggak ada manfaatnya.
3). Tiap kali hendak melakukan aktivitas tertentu, usahakan meniatkannya untuk ibadah. Selain agar aktivitas kita bernilai ibadah, niat juga untuk menyaring antara rencana yang positif dan negatif. Nggak mungkin dong niatin Karena Allah untuk hal-hal negatif. Iya gak???
4). Fokus ! Hasil dari niat yang baik adalah fokus. Sehingga tidak kehilangan kosentrasi menuntaskan pekerjaan hari itu.
5). Ciptakan suasana santai dalam keseriusan aktivitas. Ini untuk ngilangin kebosanan.
6). Isi waktu luang istirahat dengan shalat, membaca Al-Qur’an atau hal-hal lain yang bermanfaat. Sehingga istirahat sekalipun tetap mengisinya secara positif.
7). Usahakan memulai aktivitas positif dengan basmalah dan rasa harap kepada Allah. Sehingga kamu tetap dalam bimbingan dan lindungan-Nya.
8). Mengakhiri hari dengan muhasabah, do’a dan mohon ampunan kepada Allah.
Ini sederhana lho. Daripada dakik-dakik tapi susah jalaninnya. Lebih baik mengawali yang sederhana tetapi diseriusi, insyaallah akan berbuah. Nah, selamat mencoba !







0 komentar: on "Cara Menumbuhkan Semangat"
Posting Komentar