Ditulis oleh
ihya' di/pada April 7, 2010
Pelaku : - Pak Hanafi
- Ibu As
- Calon Menantu
- Purwoko
- Istri Purwoko
Suasana:
Adegan terjadi malam hari di suatu ruangan (Bu As sedang membuka-buka brosur wisata ke luar negeri)
Pak Hanafi : (dalam hati) “Dasar orang miskin, bisanya cuma mimpi. Emangnya, kalau sudah buka-buka brosur begitu. Lantas sudah merasa berada di luar negeri …?
(Calon menantu duduk di samping Pak Hanafi)
Calon menantu : “Ibu mau pergi ke mana untuk merayakan Tahun Baru?”
Bu As : “Lha ini, aku sedang bingung. Pokoknya rahun ini aku harus keluar dari orbit ibu-ibu kompleks sini.
Sudah bosen merayakan Tahun Baru dengan mereka. Perayaan Tahun Barunya tidak mengesankan.
Hanya bakar sate, lantas apa lagi goreng singkong.
Nggak berkesan!”
Pak Hanafi : “Lha itu, Bu, untuk membeli kenangan alangkah mahalnya, harus pergi ke hotel, atau tempat lain.
Tabungan dikuras.”
Bu As : “Yang penting puas. Pak. Bapak kok iri sama orang berduit?”
Calon menantu : “Terus, Ibu mau ke mana?”
Bu As : “Aku sedang bingung. Mau Tahun Baru ke Prancis, di sana sedang ada pemogokan. Transportasi lumpuh.
Masak, pergi ke Prancis cuma mendekam di rumah Saudara. Kan, nggak enak. Mau nengok famili di Kanada, di sana sedang musim dingin.”
Pak Hanafi : (mencibirkan bibirnya)
Calon menantu : “Kan, ada baju tebal.”
Bu As : “Bukan perkara baju tebal, tetapi rematikku ini, lho.
Bisa kambuh nanti.”
Calon menantu : “Ke Australia saja, Bu As. Di sana kan sedang musim panas.”
Bu As : “Ya, ngapain ke sana. Cuma melihat kanguru.
Sudah ada, tuh, di sini. Di kebun binatang. Kenapa mesti ke sana.”
Pak Hanafi : “Alasan rematik, alasan kanguru, orang tidak punya tabungan saja, Ibu berlagak ….”
Bu As : “Siapa tahu ada yang mengongkosi ….”
Pak Hanafi : (agak marah) “Bu, di depan calon menantu jangan ngomong begitu, nanti dikira nyindir ….”
Calon menantu : (sambil meringis) “Saya sudah kebal kok, Pak, oleh sindiran. Saya memang orang yang benar-benar tidak punya.”
Bu As : (menjadi berang) “Bapak menuduh asal-asalan.
Memangnya aku minta diongkosi oleh menantu ….”
Pak Hanafi : “Yaa … misalnya, orang lain, mau Bu?”
Bu As : (Wajah berangnya kontan hilang, berubah terbelalak penuh harap). “Lho, siapa, Pak, yang mau mengongkosi?”
Pak Hanafi : “Ada, mau?”
Bu As : (sambil melihat kesungguhan suaminya). “Ya, mau.”
Pak Hanafi : “Ibu loncat pagar saja di kedutaan!”
Calon menantu : (tertawa terbahak-bahak).
Bu As : (kebingungan) “Lho, bisa toh, Nak?”
Calon menantu : “Ya, bisa, Bu, tetapi itu namanya minta suaka politik.”
Pak Hanafi : “Ya, nggak apa-apa, Bu. Ibu bilang saja pada orang kedutaan, sudah bosan tinggal di Indonesia. Punya suami sudah gaek, tidak bisa apa-apa. Di luar negeri jadi gelandangan juga diberi uang, kok, Bu.”
Bu As : “Huu, menghina, jadi gelandangan …. nggak, nggak sudi yaa ….”
Tiba-tiba terdengar suara “bluk” di belakang rumah.
Bu As : “Lho, apa itu?”
Calon menantu lari ke belakang. Bu As dan Pak Hanafi menyusul. Di pojok belakang ada sesosok lelaki terduduk. Kelihatannya habis loncat dari pagar dan kakinya sedikit kesakitan.
Bu As : (teriak) “Maliiiiing!”
Purwoko : “Bu, saya bukan maling, tetapi tetangga di belakang rumah Ibu.”
Bu As : “Lho, Nak Purwoko ….”
Purwoko : “Iya, Bu ….”
Pak Hanafi : (mendekat). “Dik, ini bukan kedutaan. Jangan minta suaka di sini. Apalah saya ini. Saya tidak permah melamar jadi duta besar, kok Adik mencari suaka di rumah saya ….”
Purwoko : “Maaf, saya … ng … saya mau dibunuh istri saya ….”
Bu As : “(geleng kepala). “Wah, ini perkara perselingkuhan.
Pasti ini. Biarlah suami istri orang Inggris saja yang pada selingkuh. Kenapa pada tiru-tiru.”
Pak Hanafi : (tertawa). “Perselingkuhan lagi nge-trend, kok, Bu.Menurut ramalanku, tahun 1996, bakalan banyak perselingkuhan.”
Purwoko tidak menghiraukan ocehan-ocehan tersebut dan hendak meninggalkan mereka, tetapi ….
Pak Hanafi : (sambil mengajak masuk ke dalam rumah). “Sudah, ditenangkan dulu.”
Purwoko : “Saya ini, ‘kan orang kapal, Bu. Sering keliling dunia ….”
Pak Hanafi melirik Bu As.
Pak Hanafi : “Itu, Bu, kalau mau keliling dunia secara gratis, Ibu jadi orang kapal saja ….”
Bu As : “Sembarangan. Orang kapal ….”
Purwoko : (menengah) “Saya sudah bosan jadi orang kapal.
Saya mau jadi orang daratan saja, Bu. Eee … istri saya malah marah. Katanya, di daratan banyak pengangguran. Lantas ia memaksa saya untuk berlayar lagi, tetapi saya tidak mau. Istri saya marah.
Lantas saya menuduh dia lebih senang saya tinggalkan. Biar bisa bersenang-senang dengan lelaki lain ….”
Pak Hanafi : (sambil mengangkat tangan). “Lho, bukan saya.
Saya sudah tua, lho ….”
Purwoko : (tersenyum) “Terus dia marah dan bawa pisau dapur. Saya mau ditusuk. Lantas saya lari.”
Calon Menantu : “Masak, tidak bisa dicegah sendiri. ‘Kan lelaki lebih kuat.”
Purwoko : “Saya menangkis dengan bantal dan guling sampai bantal dan guling itu ‘bodol’, tetapi dia tetap saja mengamuk. Lantas saya lari.”
Pak Hanafi : “Wah, ini pertanda berita tentang pembunuhan pada tahun 1996 semakin banyak. Tabloid-tabloid tidak bakal kekurangan bahan. Baiklah, Nak Purwoko di sini dulu. Saya mau tengok istri Nak Purwoko.
(sambil menepuk bahu calon menantu) “Ayo, temani Bapak ….”
Bu As : “Biar, aku saja ….”
Sumber: Nova, 17 Desember 1996
Suasana di depan sekolah pada suatu siang sepulang sekolah. Terlihat
seorang anak sekolah bernama Deri membeli beberapa kantung kacang dari sebuah warung.
Ia segera pulang ke rumahnya.
Suasana rumah Deri. Deri membuka sepatu dan kaus kakinya. Ia meletakkannya begitu saja di belakang pintu rumahnya. Ia lalu segera pergi ke kamarnya. Ibunya melihat tindakan Deri.
Ibu : (marah) “Deri, sepatumu jangan diletakkan sembarangan. Kan, sudah ibu sediakan rak khusus untuk menyimpan sepatu.”
Deri : (menyeka keringat di keningnya) “Deri kan capek, Bu. Hari ini rasa nya gerah banget. Lagian, kan ada Bi Surti.”
Ibu : “Bi Surti pulang kampung selama tiga hari. Lagian, kenapa kamu menanyakan Bi Surti?”
Deri : “Biasanya kan Bi Surti yang suka membereskan sepatuku.”
Ibu : (kesal) “Untuk hal seperti ini, Ibu rasa kamu bisa me ngerjakannya sendiri.”
Deri : (segera mengambil sepatu dan kaus kakinya yang ber serakan) “Aahh… Ibu.”
Deri segera masuk ke kamarnya. Suasana berganti menjadi kamar Deri. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur kecil, kipas angin, meja belajar, dan sebuah tempat sampah. Deri merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia melemparkan tasnya ke samping bawah meja belajarnya. Ia belum mengganti baju seragamnya. Lalu, ia menyalakan kipas angin.
Deri : (sambil membaca buku yang diambilnya dari meja belajar) “Ahh… begini kan lebih enak….”
Deri membuka bungkus kacang yang ia beli tadi. Ia membuka satu per satu dan melemparkan begitu saja kulit-kulit kacang ke bawah tempat tidurnya.
Suasana malam. Deri tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara aneh.
Ciiitttt… cit… cittt…. Deri ketakutan. Dari kolong tempat tidurnya, keluar seekor tikus.
Deri kaget. Ia paling takut pada tikus. Tidak berapa lama kemudian, beberapa ekor tikus keluar dari kolong tempat tidurnya. Deri mengambil sapu ijuk.
Deri : (mencoba mengusir tikus-tikus) “Ukhhh… mengganggu saja!” (memukul seekor tikus)
Beberapa tikus malah menghampiri Deri.
Deri : (ketakutan dan menjerit-jerit) “Ibu, Ibu tolongin Deri!”
Ibu : (membuka pintu kamar Deri) “Ada apa kok kamu teriak-teriak?”
Deri : (wajahnya pucat) “Ibu, banyak si Jerry!”
Ibu : “Jerry, siapa itu Jerry?”
Deri : (menunjuk ke bawah tempat tidurnya) “Maksud Deri banyak tikus kecil.”
Ibu : (kebingungan) “Di mana?”
Deri : “Itu di bawah tempat tidur Deri!
Deri takut. Deri tidak mau tidur di kamar Deri.”
Ibu : “Ya sudah, malam ini kamu tidur bersama kakakmu saja.”
Suasana pagi hari. Ibu masuk ke kamar
Deri. Ia kaget melihat sampah-sampah berserakan di bawah tempat tidur Deri.
Ibu : (berteriak, mukanya cemberut)
“Derii…sini!”
Deri : (memakai seragam sekolah) “Ya ada apa, Bu?”
Ibu : “Lihat!” (menunjuk ke sampah yang berserakan) “Kamu jorok sekali. Pantas banyak tikus di kamarmu.”
Deri : (malu dan tertunduk) “Habis bagaimana dong?”
Ibu : “Lho kok, malah tanya. Mulai sekarang kamu harus menjaga kebersihan kamarmu. Kamu jangan membuang sampah sembarangan lagi. Kan, sudah ibu sediakan tempat sampah di kamarmu (menunjuk ke tempat sampah).
Apa perlu Ibu membuatkan plang peringatan di sini?”
Deri : “Ibu bisa saja. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan lagi.
Deri kapok sama si Jerry-Jerry nakal.”
Ibu : (tersenyum) “Ya sudah, sekarang kamu pergi sekolah. Pulang sekolah nanti, kamu harus membersihkan kamar mu.”
Deri : “Baik, Bu!”
Sejak saat itu, Deri selalu menjaga kebersihan kamar nya.
Naskah drama ini adalah hasil pengubahan dari cerpen “Tikus-Tikus Nakal”.
Sumber: Bobo, 22 Februari 2007
Karya Trisno Sumardjo
Perempuan
Hantu?
Lelaki
(bangkit, memegang bahu perempuan itu dan melepaskannya lagi) Tidak, tidak, kau bukan hantu. Cuma aku, aku saja.
Perempuan
Apa maksudmu?
Lelaki (ketawa kecil).
Ah, tidak apa-apa Tidak apa-apa, Dik.
Perempuan
Kau tidak senang melihat aku?
Lelaki
Bukan begitu. Aku senang kau datang kemari. Mana tempatmu?
Perempuan
Tempatku jauh….
Lelaki
Jauh? Di…. di sana? (menuding ke atas). Berapa kali bumi ini jauhnya?
Perempuan (tercengang)
Mas.Omongmu tidak karuan!
Lelaki
Di neraka atau sorga?
Perempuan
(marah) Rupanya kau sudah menjadi gila! Neraka atau Sorga, katamu? Di sorga tak mungkin. Sebab kaulah yang menghalang-halangi aku untuk pergi ke situ kelak. Kaulah yang menyeret aku ke neraka!
Lelaki
Benar…. benar, Dik. (berjalan ke kursi, duduk, matanya nanar memandang ke satu jurusan
).
Perempuan
Bukankah salahmu melulu, bahwa penghidupan kita ibarat neraka? Sehingga aku lari dari padamu, setahun yang lalu?
Lelaki (bertopang dagu)
Ya, ya Dik. Maaf, maaflah.
Perempuan
(lunak kembali) Mas, bukan maksudku untuk membalas dendam.
Lelaki
(mengangguk) Kutahu, Dik, kutahu baik hatimu.
Semuanya ini salahku. Penderitaan orangtuaku.
Sengsaramu. Semua aku yang menyebabkannya. Aku penjudi, peminum, penjahat, duh! Cinta kasih orang tua dan cinta kasihmu, betapa aku membalasnya?
Harta benda orang tua habis lenyap karena aku.
Habis dengan judi dan minum. Kusakitkan hati ayahku, kusedihkan ibuku. Dan kau Dik, (Memandang perempuan muda. itu) betapa aku membalas kebaikanmu?
Dengan malas, dengan minum, brendi berbotol-botol yang kubeli dengan uangmu! Kau yang selalu kerja keras, aku yang menghabiskan uangmu, aku yang menyayat hatimu, menyiksa jiwamu! Maaf, maaf, Dik!
Perempuan
Biarlah, itu sudah lampau. Sekarang aku sudah bisa mendapat mata pencaharianku sendiri. Tapi kau sendiri?
(melihat di sekitarnya). Kau kekurangan segalanya, Mas.
Lelaki
Hukumanku, Dik, biarlah. Ini sudah setimpal.
Perempuan
Kalau mau, aku bisa menolong….. (membuka tasnya).
Lelaki
(cepat) Ah tidak! Tidak. Terima kasih, Dik.
Perempuan
Tak usah malu-malu, Mas. Kuberikan dengan rela hati.
Lelaki
Aku tahu, aku tahu! Tapi jangan, jangan aku kauberi apa-apa. Ah, kalau kupikir bahwa kau mau menolong aku, kau yang kujerumuskan ke jurang kemiskinan dan kehinaan! Segala kesabaranmu, kerelaan dan cintamu, kubalas dengan apa? Dengan muka masam, kekasaran dan penghinaan. Ah, betapa sering kuhina kau, Dik?
Betapa sering kulemparkan cacian ke mukamu bahwa kau berasal dari kaum rendah, tak pantas bersama aku, sebab aku seorang bangsawan? -Bangsawan, ha, ha! Apa artinya turunan bangsawan, jika tidak disertai kebangsawanan jiwa? O, orang yang buta tuli seperti aku ini! Picik dengan persangkaanku bahwa orang berbangsa lebih dari orang lain, mesti di atas orang biasa. Picik, pandir, dan gila! Sedangkan kau, Dik, seribu kali kau lebih bangsawan daripada aku!
Perempuan
Sudahlah. Jangan kau siksa dirimu dengan sesalan saja. Sekarang kau sudah insaf. Tutuplah riwayat yang dulu-dulu.
Lelaki
Riwayat yang dulu masih berakibat sampai sekarang.
Hanya kepahitan sajalah yang kau terima dari aku.
Segala kenikmatan hidup sudah kurenggut, kuhela, kucuri dari padamu, Dik. Tak pernah ada yang kuberi padamu….O. Keangkuhan darah bangsawan yang tak mau campur dengan darah murba, karena itu dianggapnya rendah, kotor. Tapi siapakah yang kotor, Dik? Aku, aku sendiri! Dan kaulah yang murni!
Meskipun karena kemiskinanmu engkau menjadi ….. Dik, kau masih menjalankan pekerjaan yang….
yang…..?
Perempuan
Ya, Mas, yang hina, yang sangat hina, katakan sajalah.
(air matanya berlinang-linang)
Lelaki
(berdiri) Aku yang salah, Dik! Cintamu yang murni itu bahkan mau kauberikan kepada aku yang kotor ini, tapi kau kuinjak-injak, kuhina, kurusak, sehingga… sehingga kau terpaksa pergi menjual cintamu…
Demi Allah-Allah yang tak pernah kusebut dulu, kini kusebut, Dik- (memegang tangan perempuan itu kedua-duanya dengan kedua belah tangannya, berlutut), demi Allah
, ampunilah aku. Maaf, maaf, Dik!
Perempuan (air matanya meleleh)
Cukup, cukuplah, Mas.
Lelaki
Kau ampuni aku, Dik? Katakan….!
Perempuan
Ya, ya Mas, berdirilah.
Lelaki
Katakan! Kumau dengar perkataan maafmu.
Perempuan
Kumaafkan engkau, Mas, sudahlah.
(berdiri)
Sumber: Horison, Kitab Nukilan Drama
Karya D. Jayakusuma
Adegan XXV
(Pentas belakang terang, muncul Petruk, Gareng, dan Bagong)
Petruk : Menurut Semar yang maha tahu segera datang seorang tamu.
Gareng : Pedagang atau bangsawan?
Bagong : Katanya anak pendeta ex raja.
Petruk : Yang bekas raja itu pendeta atau anaknya?
Bagong : Anak jadi raja, pendetanya jadi ex.
Gareng : Kalau mendengar yang gamblang, kalau bicara yang terang.
Bagong : Aku ini bicara tegas, sebab itu pasti jelas, tegasnya aku sendiri tidak jelas.
Petruk : Siapa yang ex raja, atau ex pendeta, atau ex anak tidak penting, yang penting kita harus menerimanya, kita dijadikan protokol. Kita kol bersaudara.
Semar jadi dongkol.
Gareng : Memang aku antikol. Aku pro kangkung, ditambah hidung, ditambah
petis yang agak manis …………
Petruk : Jangan main-main. Amanat orangtua. Supaya tamu merasa dihormati, yang menerima harus setaraf dengan dia.
Kalau dia bangsawan, kita juga bangsawan.
Bagong : Cocok. Aku komedi bangsawan.
Aku jin Afried: La, la….
Gareng : Ya, Pangeran Ommelet. Pangeran sudah adu jangkrik?
Bagong : Aku kok tidak ditanya?
Petruk : Bagaimana Tuanku Baron Bagong?
Bagong : Baik-baik. Terima kasih, Pangeran Pailit. Namaku Baron Bagong de Bawor.
Adegan XXVI
(Bergawa datang)
Gareng : Ah, tamu kita datang. Selamat datang! Saudara ini raja atau tukang kayu?
Bergawa : Saya Rama Bergawa alias Rama Parasu.
Petruk : Tambah Seri Paduka.
Bergawa : Maaf Tambah Seri Paduka.
(Pada Petruk). Ini raja?
Gareng : Berapa kali sudah menghina. Tapi tidak apa. Ini cuma sandiwara.
Saya raja negeri kurang tahu, darahku biru, buat transfusi tidak laku.
Bergawa : Maaf, Seri Paduka mengapa pincang?
Gareng : Pincang? Masalah gampang.
Sebentar mengarang. Ini garagara kerang. Waktu ibu saya mengandung.
Bagong : Mengandung!
Gareng : Supaya yang diam, Baron.
Waktu ibuku mengandung waking tabu… waking wang?
Bergawa : Apa itu waking wang?
Gareng : Sorry. Tidak kenal bahasa Kawi?
Maksudnya badannya saya. Dia iseng makang kerang di restoran ngangkang ….
Bergawa : Pantas, Seri Paduka seperti kerang.
Gareng : Ya, kerang. Perlu kerang? Berapa kilo?
Bergawa : Terima kasih, lain kali. Ini yang bundar?
Bagong : Perkenalkan! Saya Baron Bagong de Bawor de Belangsetan, keturunan kesepuluh dari maharaja diraja, keturunan raja disinga, tanpa di. Mengapa bundar? Terlalu banyak obat dan gas. Sebentar lagi aku akan melayang seperti balon; ngalor, ngidul, ngetan, kembali kulon. Mau kelon?
Gareng : Sudah tolol adu okol. Kita harus raja, pangeran, dan baron.
Petruk : Betul. Sekarang bagi-bagi titel.
Kang Gareng yang tua jadi raja.
Aku jadi pangeran.
Bagong : Setuju. Aku jadi Baron de Bagong.
Lha, Pak Semar jadi apa?
Petruk : Dia mestinya, ya, jadi kaisar.
Bagong : Cocok. Semar mbokne Parto.
Gareng : Mbokne Parto bagaimana?
Bagong : Itu yang selalu garuk-garuk perutnya.
Orang kecil.
Petruk : O, Bonaparte. Nah, itu orangnya datang. Awas! (Pada Gareng). Seri Paduka apa sudah mandi pagi ini?
Gareng : Sudah Pangeran. (Berbisik). Siapa namamu? Sudah tiga kali.
Petruk : (Berbisik). Panggil aku Ommelet.
Bergawa : Sangat mengagumkan. Dan tuan panjang ini?
Petruk : Pangeran. Pangeran pengkalan bambu bambungan– Satria 100 persen. Boleh ditawar.
Bagong : 75 persen.
Gareng : 25 persen.
Petruk : 50 persen. Jadi? Jadi. 50 persen.
Nah, Grap Barbara ….
Bergawa : Rama Bergawa alias Rama Paras.
Petruk : Baik Rama Bergawa, hari ini kau, kami angkat jadi Grap Parabagawa di Barbasu de Bakso. Grap tentu ingin audiensi menghadap seri paduka yang mulya lagi bijak bestari asmara terpendam di keranjang sampah.
Bergawa : Kalian ini bangsawan atau badutbadut yang tidak lucu?
Adegan XXVII
(Semar datang sambil tertawa terkekeh-kekeh).
Semar : Maafkan saya, anak-anak saya.
Memang agak kurang ajar, walau sudah berkali-kali dihajar tanpa bayar. Saya ini Semar, budak biasa, budaknya Prabu Rama saja, tidak pakai embel-embel.
Bergawa : Jadi namanya Rama– saja tidak pakai embel-embel.
Semar : Maksud saya Rama saja, thok, doang. Dia bukan Rama Barbawa-bawa.
Petruk : Juga bukan Bar ngangsu di kali baru.
Gareng : Bukan pula Bar ngawur di kali tawur.
Bagong : Juga bukan Bar Bir di tempat parkir.
Semar : Sudah siap menghadap majikan saya?
Bergawa : Lekas bawa dia kemari.
Gareng : Jangan omong asal omong.
Petruk : Salah omong bisa monyong.
Bagong : Sekali monyong minta lontong.
Bergawa : Sekali lontong…. gila. Biar aku ke sana.
Semar : Tunggu saja di sini dengan sabar.
Adegan XXVIII
Semar pergi.
Gareng : Dan jangan berani kurang ajar.
Petruk : Lebih baik berdamai, kompromi.
Bagong : Tapi bayar uang administrasi.
Uang semir juga jadi. Mau plesir? Aku ladeni.
Bergawa : Bawa dia lekas kemari. (Bargawa mengangkat kapaknya. Gareng, Petruk dan Bagong memasang kuda-kuda pendak, bokser, dan gulat).
Adegan XXIX
(Rama Wijaya diantar Semar. Rama Wijaya tidak membawa senjata).
Rama Wijaya : Kamu sekalian, pergi.
Gareng : Yang hati-hati.
Petruk : Harus ada saksi.
Rama Wijaya : Sudahlah, pergi sana!
Bagong : Sisa makanan masih ada?
Semar : Masih banyak, ayo!
(Semar dan anak-anaknya pergi. Tinggal Rama Wijaya dan Rama Bergawa berhadapan).
Adegan XXX
(Rama Wijaya dan Rama Bergawa berhadapan).
Rama Wijaya : Sama awalnya, lami akhirnya sama namanya, lami gelarnya semoga dewa melindungimu sehat-sehat di hadapanku?
Rama Bergawa : Terima kasih atas sambutanmu sudah lama aku ingin bertemu dengan orang menyamai namaku.
Rama Wijaya : Aku senang berjumpa muka dengan Bergawa Parasu Rama begitu tersohor di dunia.
Rama Bergawa : Kita berjumpa mengadu senjata mengapa datang bertangan hampa?
Rama Wijaya : Kau datang hendak membunuh aku datang menerima tamu seperti galibnya tuan rumah terhadap tetamu harus ramah.
Kau datang mencabut nyawa aku serahkan dengan rela.
(Rama Wijaya berlutut di depan Rama Bergawa, mengalungkan lehernya).
Rama Bergawa : Ini bukan keramahan tapi jelas penghinaan.
Rama Wijaya : Aku bermaksud tidak melawan karenanya aku hampa tangan.
Aku sadar dosaku sangat banyak sudah layak jadi sasaran kapak atau Bargawastra yang sakti akan mengantar aku kembali ke asalku yang sejati.
(Rama Wijaya menung, kemudian ia kembali tegak, sedang Rama Bergawa terdiam).
Rama Wijaya : Dunia tabu akan hasratmu menggantikan Yamadipati.
Penuhi hasratmu jangan ragu masih banyak tugasmu menanti.
(Bergawa ayunkan kapak. Rama mengelak. Kapak mengenai tanah, tangkainya patah jadi dua, Bergawa heran). Jumlah satria tak terbilang jangan biarkan waktu terbuang.
Kau mau bersihkan dunia lakukanlah dengan segera.
(Bergawa memasang tali pada busur. Mendadak tali putus. Dengan kesal busur dilempar ke tanah).
Mengapa tanggalkan senjata?
Badanmu kuat sentausa tanganmu berotot baja cukup dengan mencekik saja.
Chorus:
Rama Bergawa diam membisu menyadari tindakannya keliru.
Ia ingin bersihkan dunia dari satria murang tata.
Solo
Tiap apa dilakukannya?
Tiap satria dibunuhnya bahkan juga perempuan dan bayi dalam kandungan.
Rama Wijaya : Tugasmu belum selesai belum terdengar lonceng usai masih banyak satria berkelana
tak terbilang keturunannya.
Angkat senjata bunuh semua bunuh aku dan dirimu karena kau laki-laki dan satria lagi.
Baru sesudah tiada lagi seorang insan di dunia ini boleh kau tanggalkan senjata boleh kau menepuk dada telah terpenuhi sumpahmu keji.
(Rama Bergawa bertekuk lutut di hadapan Rama Wijaya. Cahaya dipusatkan pada kedua tokoh itu).
Chorus
Anak satria adalah satria tapi satria dan satria ada berbeda.
Solo
Perbuatan, perbuatan itulah nilai dan ukuran.
Maunya membersihkan dunia nyatanya ia mengotorinya.
Chorus
Bila dipimpin benci dan dendam pandangan tajam menjadi buram hati nurani tenggelam dalam.
Sumber: Horison, Kitab Nukilan Drama
Kelompok yang dipimpin oleh Teguh Karya ini, semula bernama Teater Populer Hotel Indonesia. Anggota awalnya berjumlah sekitar 12 orang, berasal dari ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), mahasiswa dan para teaterwan independen. Mereka mempersiapkan diri sejak awal 1968 dan berlatih di panggung Ballroom Hotel. Manajemen kelompok ini memang berpayung di bawah Departemen Seni & Budaya Hotel Indonesia.
Jangkauan utama kelompok ini adalah menanamkan apresiasi teater terhadap masyarakat dengan pendekatan bertahap. Gebrakan demi gebrakan telah berhasil menggaet sekitar 3000 peminat
yang bersedia menjadi penonton tetap dengan membayar iuran.
Produktivitas kelompok ini luar biasa. Untuk masa dua tahun, Teater Populer HI sanggup menggelar produksi panggung sekali sebulan. Di dalam proses perjalanannya, kelompok ini kemudian memisahkan diri dari manajemen Hotel Indonesia dan mengubah nama grup menjadi Teater Populer.
Karya-karya pentas yang dianggap kalangan kritikus sebagai puncak eksplorasi kelompok ini, antara lain; Jayaprana karya Jef Last, Pernikahan Darah karya Federico GarcÃa Lorca, Inspektur Jendral karya Nikolai Gogol, Woyzeck karya Georg Büchner, dan Pilihan Dewa karya Bertolt Brecht, semuanya disutradarai Teguh Karya.
Kegiatan Teater Populer bukan hanya di panggung, melainkan juga di televisi. Pada tahun 1971, kelompok ini melahirkan sebuah karya film berjudul Wajah Seorang Laki-laki.
Sejak saat itu, teater-film-televisi, merupakan bagian kegiatan yang tak terpisahkan dari kelompok ini.
Banyak nama mencuat lewat kelompok ini. Selain, tentu saja, Teguh Karya, yang kemudian dianggap sebagai guru teater dan film Indonesia saat ini, lahir pula Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim, Franky Rorimpandey, George Kamarullah, Henky Solaiman, Benny Benhardi, Niniek L. Karim, Sylvia Widiantono, Dewi Matindas, Alex Komang, dan lain-lain.
Sumber: www.id.wikipedia.org
Sumber: www.suaramerdeka.com
Karya Darto Temala
Para pelaku:
1. Igun
2. Yusrina
3. Hanafi
Pentas menggambarkan sebuah kebun, halaman belakang gedung perpustakaan suatu SMA. Di tengah terdapat bangku panjang, tempat duduk yang terbuat dari semen. Bagian depan sebelah kanan terdapat bak air kecil yang tak ada airnya dan bisa untuk duduk. Ada beberapa tanaman bunga dan pot bunga ada di situ.
Latar belakangnya gedung perpustakaan.
Yusrina
(Sedang tekun membaca buku catatan, belajar. Tas, buku ada di sisinya, di bangku tersebut. Setelah terdengar bel, beberapa saat berlalu dalam sepi)
Igun
(Masuk dari kiri) Sudah lama?
Yusrina
(Acuh tak acuh) Sudah!
Igun
(Duduk di sampingnya) Tentu saja. Tadi kau tidak ikut pelajaran yang keenam. (Membuka buku catatan)
Pak Hadi tadi juga menanyakan kamu. Lalu, teman teman menjawab sekenanya. Kau pulang lantaran sakit perut. (Pause) Jam keenam sudah lewat?
Yusrina
(Sambil membaca) Sudah!
Igun
Terang sudah. (Pause) Hmmmmm, sekarang jam pelajaran ketujuh. Jam kedelapan ulangan Fisika, jadi masih ada waktu untuk belajar…. (Melihat jam tangan) Tiga puluh tujuh menit. Kau sudah belajar tadi malam?
Yusrina
(Sambil membaca) Sudah!
Igun
Aku juga tahu, tapi cuma sepintas lalu saja. O, ya, soal-soal minggu kemarin sudah kau kerjakan?
Yusrina
(Sambil membaca) Sudah!
Igun
Semua? (Diam saja) Biasanya kau hanya mengerjakan empat dari sepuluh soal itu. Itu pun yang mudah saja.
lya, kan? Aku sendiri paling malas bila berhadapan dengan soal-soal Fisika. (Membuka catatannya) Eh, Yus, sudah nonton “Mighty Man”?
Yusrina
(Kesal) Sudah!
Igun
Bagaimana kesannya? Bagus? Aku juga nonton, juga lihat kamu. Kau nonton dengan….
Yusrina
(Cepat memotong) Sudah!
Igun
Asyik ya, nonton duaan!
Yusrina
(Kesal) Suuuudah!
Igun
(Menggoda) Kau tidak salah memilih cowok macam
Agus?
Yusrina
(Marah) Sudah! Sudah!
Igun
Dia itu cowok ideal. Gagah lagi. Face-nya lumayan, tidak terlalu ngepop, juga tidak kampungan.
Yusrina
(Marah) Suuuuuuudah! Sudah!
Igun
Apalagi anak pejabat tinggi.
Yusrina
(Masih marah) Sudah, sudah, sudah!
Igun
Sudah. Sudah,! Sudah! Lagi, ah! Dari tadi sudah melulu. Apa tidak ada kata-kata lain? Bahasa Indonesia kan banyak perbendaharaan katanya.
Sudah, sudah, sudah, dari tadi sudah, sudah, sudah melulu. (Menggoda) Jangan begitu, Yus, dia itu benarbenar cakep, Iho.
Yusrina
(Marah) Sudah, ah!
Igun
Sudah! Baru bertengkar, apa? Sedang Perang Sabil, ya? Jangan, ah! Dia itu cowok ideal. Sungguh! Cuma sayang. Kau kelihat-annya masih terlalu kecil. Aku kira kau belum pantas pacaran macam malam Minggu kemarin itu. Soalnya….
Yusrina
(Membanting bukunya) Sudah, sudah, sudah. Huuuuu… sudah, sudah, sudah. Cerewet terus. (Mengambil bukunya kembali) Sudah, aku mau belajar!
Igun
(Menirukan) Sudah, sudah, sudah, sudah. Huuuu… sudah, sudah, sudah! Cerewet terus. Sudah, aku mau belajar!
Yusrina
(Mencibir) Huuuuuh!
Igun
(Menirukan) Huuuuuh!
Hanafi
(Masuk dari kanan) Nah, ini. Ini baru bisa disebut pelajar teladan. Serius juga kelihatannya. (Mendekati Yusrina) Yus, mau ulangan, ya?
Yusrina
(Sambil membaca) Sudah, sudah, sudah!
Hanafi
Lho! Kelewat serius, nih! (Duduk di antara mereka) Sedang yang ini? Aku agak sangsi. Ini belajar atau melamun? Gun!
Igun
(Sambil membaca) Sudah, ah. Berisik saja. Ada orang lagi belajar ini.
Hanafi
Apa? Orang macam kamu belajar? Lantas kebudayaan menyontekmu kau ke manakan?
Igun
Sori saja, tidak musim sekarang.
Hanafi
Omong kosong! (Mengeluarkan sebatang rokok)
Pinjam koreknya.
Igun
Buat apa? Pinjam korek pada orang lagi belajar. Ini baru sepaning, mau ulangan Fisika tahu?!
Hanafi
Mau ulangan Fisika saja pakai sepaning segala. Tanya, nih, calon profesor. Beres!
Igun
Profesor gombal!
Hanafi
Tidak usah menghafal rumus-rumus. Buang waktu dan energi saja. Langsung pada soal, sekaligus
jawaban.
Igun
Hah!? Apa kelasmu sudah ulangan?
Hanafi
Sudah!
Igun
Sudah?
Hanafi
Sudah!
Igun
Kapan?
Hanafi
Jumat kemarin.
Igun
Lho! Bukankah Jumat kemarin Pak Asnawi masih opname di rumah sakit?
Hanafi
Ya, tapi Pak Asnawi kan guru tulen! Dia itu punya segudang soal ulangan sekaligus jawaban yang sudah jadi. Suatu saat ada ulangan, pakai soal yang itu. Ada ulangan lagi? Pakai soal yang ini. Dan dia itu bisa saja….
Sumber: Kumpulan Naskah Drama Remaja