Kamis, 24 September 2009

Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda

DEWASA ini, bangsa kita masih dihadapkan pada masalah yang sangat penting demi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni masalah persatuan. Secara arif dan jujur, jawaban yang paling sederhana untuk mengatasi masalah ini adalah “belajarlah dari sejarah”. Dan berangkat dari sinilah tulisan kecil ini mencoba membuat beberapa catatan penting tentang persatuan, yang tentunya dari peristiwa sejarah yang amat sangat penting bagi bangsa Indonesia, yakni Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda, yang menurut penulis dapat dianggap sebagai –“mewakili” suatu rangkaian kesinambungan terhadap peristiwa sumpah-pada intinya adalah persatuan.



Sumpah Palapa diucapkan oleh Patih Gajah Mada di istana Majapahit pada 1331. Serat Pararaton memuat Sumpah Palapa sebagai berikut :

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya lebih kurang sebagai berikut :

“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat” (Munadar,2004:24).



Sumpah Palapa secara esensial, isinya mengandung makna tentang upaya untuk mempersatukan Nusantara. Sumpah Palapa Gajah Mada hingga kini tetap menjadi acuan, sebab Sumpah Palapa itu bukan hanya berkenaan dengan diri seseorang, namun berkenaan dengan kejayaan eksistensi suatu kerajaan (Munandar, 2004:24). Kajian baru yang cemerlang dilakukan oleh Pradipta, yakni kajian dari sisi nilai, ideologi dan energi yang terkandung dalam Sumpah Palapa Gajah Mada. Dan salah satunya yang menurut hemat penulis harus dikutip di sini adalah kajian dari sisi ideologi, yakni sebagai berikut :

Dari sisi ideologi, Sumpah Palapa yang juga dikenal sebagai Sumpah Gajah Mada atau Sumpah Nusantara, Sumpah Palapa memiliki ideologi kebhineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan ideologi akan tetapi tetap ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se-Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraan masing-masing (Pradipta, 2004:6).



Keberhasilan Gajah Mada dalam mempersatukan wilayah Nusantara pada waktu itu, melalui Sumpah Palapanya, membuktikan bahwa Gajah Mada dengan penuh kesungguhan hati – dan yang pasti berkat tuntunan dan seizin Tuhan yang Maha Kuasa dapat mewujudkan sumpahnya. Namun itu semua sebelumnya Gajah Mada mendapat cemoohan dan ditertawakan oleh pejabat-pejabat kerajaan, walaupun Sumpah Palapa itu diucapkan di hadapan Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani. Karena penghinaan kepada Gajah Mada sudah keterlaluan, maka Gajah Mada tanpa keraguan membunuh pejabat-pejabat yang menghinanya (Munandar, 2004:32).

Hasil kerja, “maha karya” Gajah Mada itu, sayangnya kemudian mengalami kemerosotan dan akhirnya runtuh pada awal abad ke-16, terbukti dengan yang semula negara-negara daerah yang semula mengakui kebesaran Majapahit, kemudian bebas berdaulat sendiri-sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya intrik perebutan kekuasaan di kalangan para bangsawan di lingkungan kerajaan Majapahit itu sendiri. Dan pada akhirnya perang saudara yang berkepanjangan terjadi silih berganti.



Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa yang terkenal itu, karena pada intinya berkenaan dengan persatuan, dan hal ini disadari oleh para pemuda yang mengucapkan ikrar tersebut, yakni terdapatnya kata sejarah dalam isi putusan Kongres Pemuda Kedua itu.

Sumpah Pemuda merupakan peristiwa yang maha penting bagi bangsa Indonesia, setelah Sumpah Palapa. Para pemuda pada waktu itu dengan tidak memperhatikan latar kesukuannya dan budaya sukunya berkemauan dan berkesungguhan hati merasa memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Patut kita syukuri, bahwa isi Sumpah Pemuda disamping bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia, dan berbangsa yang satu bangsa Indonesia dalam bahasa tertulis menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini menandakan bukti tentang kearifan para pemuda pada waktu itu, yakni memilih bahasa yang sebenarnya menjadi milik suku bangsa yang “minoritas” ditinjau dari jumlah penduduk. Mereka tidak memilih bahasa Jawa yang dipergunakan oleh mayoritas penduduk di Hindia-Belanda pada masa itu (Damono, 2004:2).



Dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda, maka sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan, atau ide propinsialisme atau ide federaslisme. Daerah-daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh, yaitu tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah ide kebangsaan Indonesia yang bulat dan bersatu (Sukarno, 2004:65-66).

Dalam konteks sejarah pergerakan nasional kita, Sumpah Pemuda merupakan sumbangan pemuda yang sangat besar terhadap bangsanya, yang sekaligus juga adalah hasil perjuangan nasional, karena sejarah pergerakan kita pada hakekatnya adalah sejarah nasionalisme. Nasionalisme melahirkan Sumpah Pemuda, dan Sumpah Pemuda memberi isi dan tujuan kepada nasionalisme yang mendorong dan sekaligus mengarahkan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai Indonesia merdeka. Dalam dimensi waktu, sejarah pemuda merupakan mata rantai yang menghubungkan masa lampau dan harapan-harapan masa depan (Suryomiharjo, 1974:300-301).



Sejak Indonesia merdeka dan sampai akhir kepemimpinan Presiden Sukarno, beliau selalu pada kesempatan pidato kenegaraan, terus mengingatkan tentang persatuan, yang dalam bahasanya adalah menggunakan istilah “semangat Proklamasi”. Semangat Proklamasi itu adalah semangat persatuan Indonesia yang tidak membeda-bedakan apapun.

Secara sederhana Sukarno adalah orang atau pemimpin yang gandrung terhadap persatuan Indonesia yang bulat dan bersatu. Dengan sadar dan belajar betul dari sejarah, maka sesungguhnya persatuan Indonesia itu harus selalu dijaga dan dilestarikan, karena persatuan akan membawa kekuatan dan kekuatan akan membawa persatuan. Dan kenyataan otentik kegandrungan Sukarno itu terhadap persatuan Indonesia, tersirat sudah pada sila ketiga dari Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Namun demikian, kita harus membacanya bahwa persatuan Indonesia itu juga berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan/perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi selurih rakyat Indonesia. Hal membaca sila dari Pancasila itu juga berlaku bagi sila yang lainnya.

Pada era reformasi ini, secara jujur bangsa ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita sedang mengalami kemerosotan terhadap persatuan Indonesia, yang tercermin pada sikap elit-elit politik negeri ini. Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu muncul ide federalisme. “Perkelahian-perkelahian” politik yang cenderung mengesampingkan kepentingan bangsa-yang pada akhirnya bermuara terhadap terganggunya upaya untuk menjaga dan melestarikan persatuan. Dan konflik-konflik di beberapa daerah terjadi silih berganti.



Masalah persatuan Indonesia tidak bisa hanya dibicarakan dan dibahas dalam seminar-seminar ataupun apa bentuknya. Masalah persatuan Indonesia harus kita sadari bersama dan kita ikhtiarkan bersama untuk menjaga dan melestarikan persatuan Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan RI. Keteladanan-keteladanan perlu dilakukan, terutama oleh pemimpin-pemimpin di negeri yang kita cintai ini.



Sumpah Palapa Gajah Mada sudah memberi pelajaran kepada kita bangsa Indonesia, karena dengan kemauan dan kesungguhan hatilah kesatuan wilayah Nusantara dapat terwujud. Tetapi, karena intrik-intrik di kalangan para bangsawan Kerajaan Majapahitlah dan tidak adanya kemauan dan kesungguhan hati dari merekalah akhirnya Kerajaan Majapahit menjadi runtuh. Selanjutnya Sumpah Pemuda telah mengantarkan kita ke alam kemerdekaan, yang pada intinya didorong oleh kekuatan persatuan Indonesia yang bulat dan bersatu.

Sekarang marilah kita sama-sama belajar dari sejarah bangsa ini, sejarah negeri ini jika kita tidak mau tergelincir pada masa depan. Pendidikan sejarah kita perlu dievaluasi dan diperbaiki, karena betapa pentingnya anak negeri ini harus memahami tentang sejarah bangsanya sendiri.


read more...

Rabu, 23 September 2009

LIFESTYLE | ASTAGA.COM LIFESTYLE ON THE NET | keAjAibAn mAtemAtiKa

Pernahkah Kita berpikir tentang susunan bilangan berikut? Memang tidak terlalu penting sih…
Tapi…tidak dinyana-nyana ajaib sekali. Bukan kebetulan, tapi itulah sebenarnya matematika. Banyak hal yang akan kita dapatkan kalau kita mau mempelajari matematika.
Satu
0 x 9 + 0 = 0
1 x 9 + 1 = 10
12 x 9 + 2 = 110
123 x 9 + 3 = 1110
1234 x 9 + 4 = 11110
12345 x 9 + 5 = 111110
123456 x 9 + 6 = 1111110
1234567 x 9 + 7 = 11111110
12345678 x 9 + 8 = 111111110
123456789 x 9 + 9 = 1111111110




Ini belum apa-apa…
Perhatikan juga ini

Dua
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Tiga
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

Empat
1 x 18 + 1 = 19
12 x 18 + 2 = 218
123 x 18 + 3 = 2217
1234 x 18 + 4 = 22216
12345 x 18 + 5 = 222215
123456 x 18 + 6 = 2222214
1234567 x 18 + 7 = 22222213
12345678 x 18 + 8 = 222222212
123456789 x 18 + 9 = 2222222211

Lima
123456789 + 987654321 = 1111111110
1 x 142857 = 142857 (angka sama)
2 x 142857 = 285714 (angka sama beda urutan )
3 x 142857 = 428571 (angka sama beda urutan)
4 x 142857 = 571428 (angka sama beda urutan )
5 x 142857 = 714285 (angka sama beda urutan)
6 x 142857 = 857142 (angka sama beda urutan)
7 x 142857 = 999999 ( wow……suatu hasil yang Fantastis )

Enam
Bilangan sembarang jika dikalikan 9 maka jumlah hasilnya = 9
kita buktikan…..
1 x 9 = 9
2 x 9 = 18, jumlah 1 + 8 = 9
3 x 9 = 27, jumlah 2 + 7 = 9
4 x 9 = 36, jumlah 3 + 6 = 9
dst. sampai tak terhingga …..

Tujuh
22 x 9 = 198,
cara cepatnya 2 x 9 = 18, lalu selipkan angka 9 ditengah, jadi 198….okbuktikan sendiri cara cepatnya berikut ini…
33 x 9 = 297, cara cepat 3 x 9 = 27, selipkan 9 ditengah
44 x 9 = 396
55 x 9 = 495
66 x 9 = 594
77 x 9 = 693
88 x 9 = 792
99 x 9 = 891 lalu bagaimana dengan 3 angka kembar yach ….???
sama aja tuch tinggal selipkan 99 ditengahnya….
gak percaya ….kita buktikan yach…
222 x 9 = 1998, cara cepat 2 x 9= 18, selipkan 99 ditengah
333 x 9 = 2997
444 x 9 = 3996
555 x 9 = 4995

Ada yang menemukan lainnya lagi…..???
Hebat kan Matematika???…

Sumber: Math Wonders to Inspire Teachers and Students
read more...

Selasa, 22 September 2009

SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima di Jepang, oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Syahrir memberitahu penyair Chairil Anwar tentang dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan bahwa Jepang telah menerima ultimatum dari Sekutu untuk menyerah. Syahrir mengetahui hal itu melalui siaran radio luar negeri, yang ketika itu terlarang. Berita ini kemudian tersebar di lingkungan para pemuda terutama para pendukung Syahrir.


Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI.[1] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.


Sementara itu Syahrir menyiapkan pengikutnya yang bakal berdemonstrasi dan bahkan mungkin harus siap menghadapi bala tentara Jepang dalam hal mereka akan menggunakan kekerasan. Syahrir telah menyusun teks proklamasi dan telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan.
Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang.


Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol no. 1. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 malam 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan UUD yang sehari sebelumnya telah disiapkan Hatta.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pengikut Syahrir. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.


Peristiwa Rengasdengklok


Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka menculik Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya.
Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka langsung menuju ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No. 1 (sekarang gedung perpustakaan Nasional-Depdiknas) yang diperkirakan aman dari Jepang. Sekitar 15 pemuda menuntut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan melalui radio, disusul pengambilalihan kekuasaan. Mereka juga menolak rencana PPKI untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 16 Agustus
Pertemuan Soekarno/Hatta dengan Jenderal Yamamoto dan Laksamana Maeda
Malam harinya, Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta, bertemu dengan Letnan Jenderal Moichiro Yamamoto, komandan Angkatan Darat pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) di Hindia Belanda dengan sepengetahuan Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang. Dari komunikasi antara Hatta dan tangan kanan komandan Jepang di Jawa ini, Soekarno dan Hatta menjadi yakin bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, dan tidak memiliki wewenang lagi untuk memberikan kemerdekaan.


Setelah itu mereka bermalam di kediaman Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) untuk melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Rapat dihadiri oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut. Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56[2] (sekarang Jl. Proklamasi no. 1).
Sebelumnya para pemuda mengusulkan agar naskah proklamasi menyatakan semua aparat pemerintahan harus dikuasai oleh rakyat dari pihak asing yang masih menguasainya. Tetapi mayoritas anggota PPKI menolaknya dan disetujuilah naskah proklamasi seperti adanya hingga sekarang.
Para pemuda juga menuntut enam pemuda turut menandatangani proklamasi bersama Soekarno dan Hatta dan bukan para anggota PPKI. Para pemuda menganggap PPKI mewakili Jepang. Kompromi pun terwujud dengan membubuhkan anak kalimat ”atas nama Bangsa Indonesia” Soekarno-Hatta


Detik-detik Pembacaan Naskah Proklamasi




Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional dengan bingkai[3]
Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.
Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.
Setelah upacara selesai berlangsung, kurang lebih 100 orang anggota Barisan Pelopor yang dipimpin S.Brata datang terburu-buru karena mereka tidak mengetahui perubahan tempat mendadak dari Ikada ke Pegangsaan. Mereka menuntut Soekarno mengulang pembacaan Proklamasi, namun ditolak. Akhirnya Hatta memberikan amanat singkat kepada mereka.[5]


Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengambil keputusan, mengesahkan dan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang selanjutnya dikenal sebagai UUD 45. Dengan demikian terbentuklah Pemerintahan Negara Kesatuan Indonesia yang berbentuk Republik (NKRI) dengan kedaulatan di tangan rakyat yang dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akan dibentuk kemudian.
Setelah itu Soekarno dan M.Hatta terpilih atas usul dari otto iskandardinata dan persetujuan dari PPKI sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang pertama. Presiden dan wakil presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.
Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta


Di sini ditulis tahun 05 karena ini sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.
Naskah Otentik
Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah
seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.
Sementara naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh.Hatta, A.Soebardjo, dan dibantu oleh
Ir.Soekarno sebagai pencatat. Adapun bunyi teks naskah otentik itu sebagai berikut:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 - 8 -'45
Wakil2 bangsa Indonesia.










read more...

Sejarah Patung Liberty Amerika


Patung Liberty, kebanggaan dan simbol Kota New York, ternyata bukan dibuat di New York. Patung tersebut, yang ternyata di desain oleh pemahat Prancis, Frederic-Auguste Bartholdi pertama kali dibangun dan disusun di Prancis pada tahun 1874. Patung Dewi Kemerdekaan tersebut dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika, sebagai hadiah ulang
tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100.
Setelah selesai dibuat di Prancis, patung tersebut dibongkar, dan dikemas dalam 200 muatan besar untuk dikirim ke Amerika. Patung Liberty selanjutnya disusun kembali di Bedloe’s Island di mulut pelabuhan Kota New York. Sedemikian lama proses pengepakan ini, hingga patung Liberty baru bisa diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1886, sepuluh tahun setelah HUT kemerdekaan Amerika yang ke-100.

Dengan tinggi 46 meter dan berat 204 ton, Patung Liberty berdiri diatas landasan setinggi 46 meter. Bagian dalamnya diisi oleh rangka baja, sementara bagian luarnya dibuat dari plat tembaga. Rangka baja patung Liberty, dibuat dan dirancang oleh Gustave Eiffel, orang yang juga merancang dan membangun Menara Eiffel.
read more...

Senin, 21 September 2009

PERISTIWA MADIUN 1948, PERISTIWA MADIUN 1948

Pada tanggal 29 Januari 1948 Kabinet Hatta dibentuk dengan programnya:Melaksanakan hasil persetujuan Renville. Mempercepat terbentuknya Negara Indonesia Serikat (berserikat juga dengan Belanda) Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang RI (RERA) Pembangunan.Pemerintahan Hatta inilah yang dinilai oleh kaum kiri sebagai pemerintahan yang paling tunduk dan akan menyerahkan kedaulatan RI kepada Belanda, sehingga timbul ketidakpuasan yang luas terutama karena ada rencana dari Hatta untuk merasionalisasi TNI kemudian membentuk tentara federal bekerjasama dengan Belanda.-

Mulai bulan Februari 1948 Kolonel A.H. Nasution bersama Divisi Siliwangi hijrah dari Jawa Barat menuju Yogyakarta sebagai pelaksanaan dari perjanjian Renville kemudian ditempatkan tersebar di wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur khususnya di daerah yang kekuatan kaum kirinya cukup kuat seperti di Solo dan Madiun yang dimaksudkan untuk persiapan membersihkan kaum kiri tersebut. Pasukan Siliwangi tersebut segera menjadi pasukan elite pemerintah Hatta dengan kelengkapan tempur yang lebih baik sehingga timbul iri hati pada pasukan di luar Divisi Siliwangi.- Pada bulan April 1948 terjadi demonstrasi terutama dari pelajar di Jawa Timur menentang Rasionalisasi dan Rekonstruksi.- Pada bulan Mei 1948 di Solo tentara Divisi Panembahan Senopati melakukan demonstrasi menentang RERA.- Pada tanggal 2 Juli 1948 komandan Divisi Panembahan Senopati Kolonel Sutarto dibunuh oleh tembakan senjata api orang tak dikenal, kemudian diikuti dengan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa orang kiri antara lain Slamet Widjaya dan Pardio serta beberapa perwira dari Divisi Panembahan Senopati a.l. Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto, Kapten Suradi, Kapten Supardi dan Kapten Mudjono diduga kuat dilakukan oleh Divisi Siliwangi sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Hatta, walaupun kemudian pembunuh Kolonel Sutarto ditangkap tetapi pemerintah tidak mengadilinya bahkan oleh Jaksa Agung ketika itu malahan dibebaskan dengan alasan tidak dapat dituntut secara hukum (yuridisch staatsrechtelijk).- Penculikan dan pembunuhan ini terus berlanjut terhadap orang-orang kiri maupun anggota Divisi Panembahan Senopati sehingga menimbulkan keresahan dan suasana saling curiga-mencurigai dan ketegangan tinggi.- Pada tanggal 21 Juli 1948 diadakan pertemuan rahasia di Sarangan Jawa Timur antara Amerika Serikat yang diwakili oleh Gerard Hopkins (penasihat urusan politik luar negeri) dan Merle Cochran (Wakil AS di Komisi Jasa-Jasa Baik PBB) dengan 5 orang Indonesia yaitu: Wakil Presiden Moh. Hatta, Natsir, Sukiman, R.S. Sukamto (Kapolri) dan Mohammad Rum yang menghasilkan rencana kompromi berupa likuidasi bidang ekonomi, politik luar negeri, UUD 45 dan juga Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA) di bidang Angkatan Perang dengan menyingkirkan orang-orang (pasukan) yang dicap sebagai golongan kiri/merah, dan ini terkenal dengan Red Drive Proposal atau usulan pembasmian kaum kiri.- Pada tanggal 13 September 1948 terjadilah pertempuran antara Divisi Panembahan Senopati dibantu ALRI melawan Divisi Siliwangi yang diperkuat pasukan-pasukan lain yang didatangkan ke Solo oleh pemerintah Hatta.- Pada tanggal 15 September 1948 dilakukan gencatan senjata yang disaksikan juga oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, petinggi-petinggi militer RI dan juga Residen Sudiro. Divisi Panembahan Senopati mentaati gencatan sejata namun lawan terus melakukan aksi-aksi yang agresif dan destruktif.- Sementara itu sebagian anggota Politbiro CC PKI yang tinggal di Yogyakarta memutuskan untuk berusaha keras agar pertempuran di Solo dilokalisasi dan mengutus Suripno untuk menyampaikan hal tersebut kepada Muso, Amir Syarifudin dan lain-lain yang sedang keliling Jawa. Rombongan Muso menyetujui putusan tersebut. Jadi dalam hal ini kebijaksanaan PKI sesuai atau sejalan dan menunjang kebijakan Panglima Besar Jenderal Soedirman.- Sementara itu penculikan-penculikan dan pembunuhan terhadap orang-orang dan personil militer golongan kiri semakin mengganas dengan puncaknya pada tanggal 16 September 1948 markas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Jalan Singosaren Solo diserbu dan diduduki oleh kaki tangan Hatta (Siliwangi) sehingga pertempuran Solo semakin menghebat.- Aksi pembersihan orang-orang kiri ini tidak hanya terjadi di Solo tetapi meluas ke Madiun dan daerah lainnya dan hasil RERA ini TNI yang tadinya berkekuatan 400.000 hanya tinggal 57.000. Sementara itu ancaman Belanda masih di depan mata terbukti kemudian dengan Agresi Militer Belanda ke II.- Oleh pemerintah Hatta didatangkanlah ke Madiun pasukan-pasukan Siliwangi yang langsung menduduki beberapa pabrik gula, mengadakan latihan-latihan militer serta menindas para buruh pabrik gula dengan membunuh seorang anggota Serikat Buruh Gula bernama Wiro Sudarmo serta melakukan pemukulan-pemukulan dan intimidasi terhadap para buruh. Penempatan pasukan ini tidak dilaporkan kepada komandan Teritorial Militer setempat sehingga menimbulkan keteganga dan kemudian kesatuan militer setempat yaitu Brigade 29 atas persetujuan Komandan Teritorial Militer setempat bergerak melucuti pasukan Siliwangi.- Dalam keadaan panas, kacau dan tak terkendali itu, karena Residen Madiun tidak ada di tempat dan Walikota sakit, maka pada tanggal 19 September 1948 Front Demokrasi Rakyat (FDR) mengambil prakarsa untuk mengangkat Wakil Walikota Madiun Supardi sebagai pejabat residen sementara dan pengangkatan ini telah disetujui baik oleh pembesar-pembesar sipil maupun militer dan dilaporkan ke pemerintah pusat di Yogyakarta serta dimintakan petunjuk lebih lanjut. Peristiwa inilah yang mengawali apa yang disebut sebagai “Peristiwa Madiun”.- Pada tanggal 19 September 1948 malam hari pemerintah Hatta menuduh telah terjadi “Pemberontakan PKI” sehingga dikerahkanlah kekuatan bersenjata oleh Hatta untuk menumpas dan menimbulkan konflik horisontal dengan korban ribuan orang terbunuh, baik golongan kiri, tentara maupun rakyat golongan lain.- Pada tanggal 14 Desember 1948 sebelas orang pemimpin dan anggota PKI dibunuh di Dukuh Ngalihan Kelurahan Halung Kabupaten Karanganyar Karesidenan Surakarta pada jam 23.30 yaitu: 1. Amir Syarifudin, 2. Suripno, 3. Maruto Darusman, 4. Sarjono, 5. Dokosuyono, 6. Oei Gee Hwat, 7. Haryono, 8. Katamhadi, 9. Sukarno, 10. Ronomarsono, 11. D. Mangku. Sementara itu lebih kurang 36.000 aktivis revolusioner lainnya ditangkap dimasukkan dalam penjara dan sebagian dibunuh tanpa proses hukum a.l. di penjara Magelang 31 anggota dan simpatisan PKI, di Kediri berpuluh-puluh orang termasuk Dr. Rustam, anggota Fraksi PKI dan BP KNIP, di Pati antara lain Dr. Wiroreno dan banyak lagi yang lainnya.- Berdasarkan fakta pada saat Amir Syarifudin menjadi Perdana Menteri dan memimpin pemerintahan, karena dikhianati dalam Perjanjian Renville maka secara kesatria dan demokratis menyerahkan kembali mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno, sehingga sangat naif menuduhnya bersama golongan kiri melakukan pemberontakan dan membentuk pemerintahan Soviet-Madiun.- Amir Syarifudin bekas Perdana Menteri Republik Indonesia yang juga berada di kota itu (Madiun) telah membantah segala sesuatu yang disiarkan dari Yogyakarta pada masa itu. Penjelasannya melalui radio, “Undang-Undang Dasar kami adalah Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, bendera kami adalah Merah Putih dan lagu kebangsaan tidak lain dari Indonesia Raya”, seperti disiarkan pada tanggal 20 September 1948 oleh Aneta, kantor berita Belanda di Indonesia.- Bahwa kolaborasi antara pemerintah Hatta dengan pihak kolonialis Belanda maupun imperialis Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya telah berhasil memecah belah persatuan dan kesatuan serta membelokkan jalannya revolusi Indonesia.- Pada tanggal 19 Desember 1948 itu pula Belanda menyerbu dan menduduki Yogyakarta dengan perlengkapan perang bantuan Amerika, hal itu terjadi setelah politik Red Drive Proposal sukses dilaksanakan oleh pemerintah Hatta demi tercapainnya persetujuan Roem-Royen yang merugikan RI yang dilanjukan dengan terselenggaranya Konferensi Meja Bunda (KMB) yang dimulai pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949, dan kemudian lahirlah Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan konstitusi RIS-nya dan hasil yang sangat merugikan Indonesia a.l. Irian Barat masih di tangan Belanda dan hutang Hindia Belanda sebesar US$1,13 milliar menjadi tanggungan RI (hutang ini antara lain adalah biaya untuk memerangi RI), juga terjadi penurunan pangkat dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) bila menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).- Pada tahun 1954, meskipun sudah kadaluwarsa, Aidit dihadapkan pada pengadilan di Jakarta mengenai Peristiwa Madiun. Dalam hal ini PKI dituduh mengadakan kudeta. Dasarnya adalah pidato Hatta yang menyatakan entah benar entah tidak bahwa PKI mendirikan negara Soviet di Madiun dengan mengangkat wakil walikota Supardi jadi Residen sementara untuk mengisi kekosongan. Ini dianggap melanggar KUHP pasal 310 dan pasal 311. Dalam persidangan Aidit, diminta agar Moh. Hatta tampil sebagai saksi. Jaksa menyatakan keberatan atas pembuktian yang akan diajukan oleh Aidit, maka jaksa harus mencabut tuduhan pasal-pasal tersebut di atas. Pada akhirnya keberatan jaksa dan tuduhan terhadap Aidit melanggar pasal 310 dan pasal 311 KUHP dicabut. Karenanya Aidit tak dapat dituntut dan bebas tanpa syarat.Kesimpulan dari peristiwa Madiun : Pihak imperialis kolonialis pimpinan Amerika Serikat dalam menerapkan politik pembersihan kaum kiri (Red Drive Proposal) di Indonesia sebagai bagian makro politiknya untuk membendung komunisme, telah mempengaruhi pemerintah Hatta agar mau membersihkan orang-orang kiri (komunisme) dari pemerintahan, terutama dari Angkatan Perang sebagai salah satu syarat mutlak pengakuan negara Republik Indonesia oleh dunia internasional (pihak barat). Pemerintah Hatta menerima dan melaksanakan tawaran tersebut antara lain dengan membuat program Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) di lingkungan angkatan perang yang kemudian menimbulkan gelombang penolakan yang luas. Untuk meredam penolakan tersebut dilakukan upaya-upaya yang sistematis, antara lain dengan melakukan teror berupa pembunuhan, penculikan, penahanan, dan intimidasi lainnya terutama kepada kaum kiri, yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Solo. Peristiwa Madiun sama sekali bukanlah pemberontakan PKI apalagi fitnah bahwa PKI telah mendirikan Negara Soviet Madiun, tetapi merupakan rekayasa jahat pemerintah Hatta guna mendapatkan momen (kondisi dan situasi) yang tepat untuk dapat digunakan sebagai dalih (dasar) untuk menyingkirkan (membasmi) golongan kiri dari pemerintahan maupun angkatan perang, yang kemudian mendapat perlawanan dari rakyat yang konsekuen anti kolonialis/imperialis.

read more...

LIFESTYLE | ASTAGA.COM LIFESTYLE ON THE NET | SUBSTANSI DAN STRATEGI DAKWAH ROSUL PERIODE MEKKAH

PENDAHULUAN
Pada permulaan Islam, kaum Quraisy belumlah mencurahkan perhatiannya untuk menentang agama Islam, mereka mengira bahwa seruan Muhammad itu hanya suatu gerakan yang tidak berapa lama tentu akan lemah dan lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi alangkah terkejutnya mereka melihat bahwa seruan itu dengan cepat telah memasuki lingkungan keluarga mereka dan bahkan hamba sahaya mereka yang dahulunya mereka anggap derajatnya tidak lebih dari harta benda.Oleh karena itu dengan cepat mereka mengadakan penentangan dan perlawanan terhadap ajaran Rosul saw dengan cara menyiksa dan menyakiti para pengikut Rosul saw. Dengan kondisi seperti ini Rosul saw mulai memikirkan umatnya agar terlepas dari siksaan orang-orang Quraisy, yakni dengan cara memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman atau dengan kata lain berhijrah. Mengenai hijrah inilah yang akan dibahas penulis pada poin berikut.

LATAR BELAKANG HIJRAH
Penganiayaan yang dialami Rosul saw di Makkah dan pertentangan yang gigih terhadapnya menyebabkan Rosul saw harus mengubah strategi da'wah beliau. Ketika beliau merasa yakin bahwa kaum Quraisy tidak akan mau menundukan kepala mereka kepada Alloh swt, Rosul saw menyampaikan ajarannya kepada para peziarah dan pedagang dari kota Yatsrib yang melaksanakan ibadah haji ke Makkah.
Di antara mereka ada yang langsung memeluk Islam karena terkesan oleh kesungguhan dan kebenaran Rosul saw. Kemudian mereka melakukan sumpah resmi untuk menyembah tuhan Alloh swt dan melaksanakan perintah-Nya serta patuh kepada Rosul saw dalam segala hal yang baik. Janji ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Perjanjian Aqobah Pertama.Penembusan Islam secara damai melalui hubungan diplomatik Rosul saw dengan para peziarah dan pedagang yang merupakan anggota dari berbagai suku Madinah itu besar sekali artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam, karena sekurang-kurangnya beberapa anggota dari berbagai suku Madinah masuk Islam.
Pada tahun 622 M orang-orang Yatsrib yang telah masuk Islam datang kembali ke Makkah untuk mengundang Rosul saw ke kota mereka dan mereka mengambil sumpah bahwa mereka akan melindungi Rosul saw dan agamanya dari bahaya apapun. Janji inilah yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqobah Kedua. Ketika kaum Quraisy mendengar hal tersebut mereka merencanakan untuk membunuh Rosul saw. Sebab-sebab utama yang membuat Rosul saw berhijrah antara lain :

Perbedaan iklim kedua kota itu mempercepat dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak masyarakat yang ramah sangat mendorong penyebaran dan pengembangan ajaran Islam lebih baik. Sebaliknya kota Makkah tidak mempunyai kemudahan seperti ini.
Nabi-nabi pada umumnya tidak dihormati di negeri mereka. Nabi Muhammad saw juga tidak diterima oleh kaumnya sendiri tapi beliau diakui sebagai Nabi Alloh swt oleh orang-orang Madinah, dan beliau sungguh-sungguh diminta untuk datang ke kota mereka, lalu Rosul saw mengabulkannya.
Golongan pendeta dan bangsawan Quraisy Makkah sangat menentang ajaran yang di bawa Rosul saw.
Orang-orang Madinah mengundang Rosul saw dengan harapan bahwa melalui pengaruh pribadi serta nasehat Rosul saw, perang yang berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj, yang hampir melumpuhkan kehidupan yang normal dari orang-orang Madinah akan berakhir.
HIJRAH
Kata hijrah berasal dari kata hajara yang berarti pindah atau meninggalkan tempat yang lama menuju ke tempat yang baru, baik secara fisik seperti pindah tempat tinggal, tempat usaha maupun sikap batin seperti pindah aqidah atau pandangan politik. Hijrah pertama kaum Muslimin adalah ke Habsyi atau Ethiopia, dan itu merupakan peristiwa perpindahan penduduk pertama di dunia dengan alasan agama. Hijrah ini terjadi pada bulan Rajab tahun ke-5 sesudah kenabian Muhammad saw. Hal itu bukan karena mereka diusir oleh musuh, tapi karena disiksa di negeri mereka sendiri. Kaum kafir Quraisy tidak menginginkan mereka pergi tapi yang diinginkan adalah hapusnya ajaran Islam dan musnahnya umat penganut ajaran Islam.

Pemilihan negeri Habsyi sebagai tempat hijrah karena menurut pemikiran Rosul saw penguasa di sana seorang penganut agama Nashrani yang santun dan suka menjalin silaturrahmi. Terdapat dua kali gelombang hujrah ke Habsyi. Gelombang Pertama, hanya dilakukan oleh 15 orang saja, terdiri dari 11 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Malihat makin sengitnya tekanan dan siksaan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin, gerakan hijrah ke Habsyi semakin besar, sehingga terjadi hijrah gelombang kedua, dengan jumlah sekitar 100 orang.

Ada tiga peristiwa penting pada periode hijrah ke Habsyi. Pertama, kembalinya Muhajirin gelombang pertama ke Makkah karena mereka mendapat berita bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Kattab telah masuk Islam sehingga orang kafir Quraisy tidak lagi berani menindas dan menyiksa kaum Muslimin, dan di Habsyi sendiri terjadi sedikit pergolakan karena pertentangan etnis. Kedua, kehadiran delegasi kafir Quraisy yang di pimpin oleh Amru bin 'Ash kepada raja Najasyi untuk memohon agar raja menolak ijin tinggal kaum Muslimin dan mengembalikannya ke Makkah, tapi permohonan itu ditolak. Ketiga, Peristiwa pernikahan Rosul saw Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb yang kehadiran dan ucapan ijab qobul Rosul saw diwakili oleh raja Najasyi yang telah masuk Islam. Kemudian setelah Perjanjian Aqobah Kedua, Terjadi hijrah lagi yang diawali dengan hijrahnya kaum Muslimin secara berangsur-angsur ke Yatsrib hingga akhirnya tinggal Rosul saw, Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib yang tetap tinggal di Makkah.

Setalah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para shahabat Rosul saw pergi meninggalkan Makkah dengan memboyong keluarga, anak-anak dan harta benda mereka untuk hijrah ke Yatsrib, kekhawatiran dan kegundahan menghantui orang-orang kafir Quraisy. Mereka tahu persis bagaimana kepribadian Muhammad saw yang sangat handal dalam mempengaruhi orang lain, di samping kredibilitas kepemimpinan dan kesempurnaan bimbingannya. Sementara para shahabatnya juga memiliki semangat membara, tunduk dan siap berkorban membela beliau.Untuk itu pada hari Kamis tanggal 26 Shafar tahun 14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baeat Aqobah Kedua, diadakan pertemuan yang dihadiri para wakil dari setiap kabilah Quraisy di Darun Nadwah. Pertemuan itu bertujuan untuk mengkaji langkah yang paling jitu untuk menghabisi Rosul saw.

Sebelum hijrah Rosul saw menemui dan mengajak Abu Bakar agara menyertainya dalam hijrah. Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali ke rumahnya menunggu datangnya malam. Siang itu para pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan di Darun Nadwah yaitu dengan membunuh Rosul saw. Seperti yang sudah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Maka dari itu mereka terus berjaga dan menunggu saat yang sudah ditentukan.Sekalipun orang-orang Quraisy telah mempersiapkan secara matang untuk melaksnakan rencana mereka, tetap saja mereka gagal toatal. Pada saat-saat yang kritis itu Rosul saw memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Kemudian Rosul saw pergi ke rumah Abu Bakar dan mereka berdua keluar dari rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur. Selama 3 hari Rosul saw dan Abu Bakar bermalam di gua tersebut.Pada hari Senin tanggal 8 Robi'ul Awwal tahun ke -14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M Rosul saw tiba di Quba'. Beliau berada di Quba selama 4 hari dan mendirikan temat ibadah di sana.

Sementara itu Ali bin Abu Thalib berada di Makkah selama 3 hari, untuk menyelesaikan urusan Rosul saw dengan beberapa orang seperti yang dipesankan beliau. Setelah itu dia berhijrah ke Yatsrib dengan cara berjalan kaki, hingga bertemu Rosul saw di Quba'. Pada hari Jum'at beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Sholat Jum'at dilaksanakan di Bani Salim binAuf. Seusai sholat Jum'at Rosul saw memasuki Yatsrib. Sejak itulah Yatsrib dinamakan Madinatur Rosul.



HIKMAH HIJRAH
Ada beberapa catatan penting yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw baik ke Habsyi atau Ethiopia maupun yang ke Madinah, antara lain :
Terjalin Ukhuwah Islamiyah antara kaum Muhajirin, yaitu para shahabat yang sejak di Makkah telah membantu Rosul saw dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam serta mengikuti Rosul saw hijrah ke Madinah, dan kaum Anshar yaitu kaum Muslimin Madinah yang menyambut kedatangan Rosul saw serta rombongan Muhajirin lainnya, dan merupakan gelar yang diberikan Rosul saw kepada orang Madinah yang beriman sebagai penghormatan kepada mereka.

Dalam kerangka persatuan adanya penghormatan terhadap pluralitas dan perbedaan antar etnis, bangsa, peradaban dan lain-lain. Dengan demikian akan terjadi rasa bangga terhadap kekhasan dan keutamaan yang di miliki tanpa mengingkari kekhasan dan kelebihan yang lain.
Diterimanya Rosul saw sebagai penengah di antara golongan-golongan yang bermusuhan di Madinah menunjukan kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap pribadi Rosul saw.Demikianlah beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw, di samping masih ada banyak kemungkinan hikmah yang bisa di dapat selain tersebut di atas. Seperti kesetiakawanan, jihad fi sabilillah, amanah dan lain-lain.

PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa setelah da'wah Rosul saw di Makkah mendapat tantangan dan perlawanan yang keras dari kaum kafir Quraisy, Untuk itu Rosul saw mengubah strategi da'wahnya dengan cara berhijrah ke tempat yang lebih memungkinkan da'wah beliau diterima masyarakat. Hijrah Rosul saw pertama kali ke Habsyi atau Ethiopia kemudian hijrah berikutnya ke Yatsrib yang kemudian oleh Rosul saw disebut Madinatur Rosul.Beberapa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa hijrah antara lain :
Terjalin Ukhuwah Islamiyah.
Adanya penghormatan terhadap pluralitas.
Kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap kepribadian Rosul saw.
read more...

KEAJAIBAN AL QUR’AN

Sebelumnya telah kita bahas bahwa mukjizat terbesar yang dikaruniakan kepada Nabi SAW adalah Al Qur’an. Al Qur’an diwahyukan kepada umat manusia 1.400 tahun yang lalu, namun ada beberapa kenyataan yang diwahyukan dalam Al Qur’an yang maknanya hanya bisa kita buktikan baru-baru ini.

Dari planet-planet hingga bintang-bintang, manusia hingga hewan, Allah menciptakan segalanya di alam semesta. Allah telah mengetahui segalanya yang belum kita temukan hingga sekarang dan Dia memberi tahu kita tentang beberapa di antaranya dalam Al Qur’an. Kita hanya bisa mengetahuinya jika Allah menghendakinya, sehingga kita tahu bahwa ini adalah mukjizat dari Allah.

1. PENDAHULUAN
Al Qur’an berisi banyak keajaiban ilmu pengetahuan. Di sini, kita akan membahas beberapa di antara mukjizat Al Qur’an. (Untuk informasi lebih lanjut kalian bisa membaca buku Keajaiban Al Qur’an.)
Bagaimana Alam Semesta Tercipta
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur’an dengan ayat-ayat berikut dan dalam banyak ayat lainnya:
Dia-lah Yang memulai penciptaan langit dan bumi… (QS Al-An’aam: 101)
Dalam bagian pertama buku ini, kita telah membahas secara terperinci bagaimana alam semesta terjadi dari belum ada sama sekali pada 15 miliar tahun yang lalu. Dengan kata lain, alam semesta tiba-tiba muncul dari ketiadaan.
Hanya ilmu pengetahuan di abad kedua puluh yang bisa membuat kita menemukan bukti-bukti ilmiah tentang peristiwa besar ini. Oleh sebab itu, mustahil mengetahuinya 1.400 tahun yang lalu (pada saat Nabi SAW hidup). Akan tetapi, ini justru telah disebutkan dalam ayat tadi, Allah memberi tahu kita kenyataan ini ketika Al Qur’an diwahyukan. Inilah keajaiban Al Qur’an dan salah satu bukti bahwa Al Qur’an adalah perkataan Allah.


2. PEMBAHASAN
Mungkin banyak di antara kalian yang tahu bahwa bumi kita dan planet-planet lainnya memiliki garis edar. Memang, tidak hanya planet-planet di Tata Surya kita saja yang memiliki garis edar, tetapi juga semua benda-benda langit di alam semesta memiliki garis-garis edarnya sendiri. Jadi, semua benda langit bergerak pada jalur-jalur yang telah ditentukan dengan sangat tepat. Inilah bukti ilmiah yang baru diketahui oleh para ilmuwan baru-baru ini, tetapi telah diwahyukan dalam Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.
Dan Dia-lah Yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masingnya beredar di dalam garis edarnya. (QS Al-Anbiya: 33)
Seperti kalian baca dalam ayat ini, Allah memberi tahu kita tentang kenyataan ilmiah yang baru saja ditemukan belum lama ini. Pada saat Al Qur’an diwahyukan, orang-orang tidak tahu bahwa benda-benda langit bergerak dalam garis-garis edar yang tetap. Tetapi Allah mengetahui segalanya dan memberi tahu apa yang dikehendaki-Nya kepada hamba-Nya.
Lautan yang Tidak Saling Bercampur
Salah satu sifat lautan yang baru saja ditemukan ilmuwan telah diwahyukan dalam satu ayat Al Qur’an sebagai berikut:
Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya bertemu, (tetapi) di antara keduanya ada batas yang tidak bisa dilewati oleh masing-masingnya. (QS Ar-Rahman: 19-20)
Sifat lautan ini, yaitu saling bertemu, tetapi tidak saling bercampur sama sekali, baru saja ditemukan oleh ahli lautan. Karena gaya fisika yang disebut dengan “tegangan permukaan”, perairan di lautan yang saling berdekatan tidak akan bercampur. Karena disebabkan oleh perbedaan kekentalan air tersebut, tegangan permukaan mencegah kedua lautan tersebut saling bercampur, seolah ada dinding tipis di antara mereka. Yang menarik, di masa ketika manusia tidak mempunyai pengetahuan fisika, tegangan permukaan atau ahli lautan, pengetahuan ini telah diwahyukan di dalam Al Qur’an.
Bentuk Bumi yang Bulat
Pengetahuan
astronomi (ilmu tentang benda langit) pada saat Al Qur’an diwahyukan memandang dunia dengan cara berbeda. Beberapa orang menganggap bahwa bumi ini datar, meskipun ada yang menganggap sebaliknya. Tetapi kenyataan bahwa bumi itu bulat tidaklah diketahui oleh semua orang. Akan tetapi, dari ayat Al Qur’an bisa dipahami secara tidak langsung, bahwa bentuk bumi adalah bulat. Ayat yang sesuai tentang ini berbunyi:
Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. Dia menutupkan (takwir) malam atas siang dan menutupkan (takwir) siang atas malam… (QS Az-Zumar: 5)
Kata berbahasa Arab ”takwir” diterjemahkan dengan ”menutupkan” dalam ayat di atas. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini berarti melilitkan sesuatu pada benda lain, hingga terlipat seperti kain yang digulung”. Siang dan malam yang saling melilit ini hanya bisa terjadi jika bumi itu bulat. Tetapi, seperti disebutkan di atas, orang-orang Arab yang hidup 1.400 tahun yang lalu beranggapan bahwa bumi itu datar. Ini berarti bahwa bulatnya bumi diberitahukan secara tidak langsung dalam Al Qur’an, yang diwahyukan pada abad ketujuh. Hal ini karena Allah mengajarkan kebenaran kepada umat manusia. Persoalan ini, yang disebutkan dalam kitab yang diwahyukan oleh Allah, baru diperjelas dalam abad-abad setelahnya oleh para ilmuwan.
Karena Al Qur’an adalah perkataan Allah, perkataan yang paling benarlah yang digunakan untuk menggambarkan alam semesta. Mustahil seorang manusia mengetahui dan bisa memilih kata-kata tersebut. Karena Allah-lah yang mengetahui segalanya, Dia bisa menyampaikan kenyataan ini kepada manusia kapan pun Dia kehendaki.
Sidik Jari

Ketika Al Qur’an menyatakan bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia kembali setelah mati, Allah menyuruh kita untuk memperhatikan sidik jari manusia.
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Sekali-kali tidak, sungguh Kami berkuasa menyusun (kembali) setiap ujung jemarinya dengan sempurna. (QS Al-Qiyamah: 3-4)
Menghidupkan kembali tubuh manusia yang telah hancur membusuk adalah sangat mudah bagi Allah. Sekarang, perhatikanlah sidik jarimu. Sidik jari semua orang berbeda satu sama lain. Jika kalian punya saudara kembar, sidik jari mereka juga berbeda. Setiap orang yang hidup atau yang pernah hidup di dunia ini mempunyai bentuk sidik jari yang berbeda. Itulah mengapa sidik jari itu sama khasnya dengan identitas seorang manusia.
Allah Yang Maha Kuasa bisa menciptakan kita kembali, hingga perincian terkecilnya. Di sini, kita perlu mencamkan bahwa pentingnya sidik jari dan bahwa setiap orang memiliki sidik jari yang khas dimilikinya baru ditemukan di abad kesembilan belas. Tetapi Allah telah menyuruh kita memperhatikan ujung-ujung jari kita pada 1.400 tahun yang lalu dalam Al Qur’an.
Ada beberapa persoalan lain yang secara ajaib diterangkan dalam Al Qur’an. Kita hanya akan membahas beberapa di antaranya di sini. Namun semua ini sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah perkataan Allah. (Untuk informasi lebih lanjut, kalian bisa membaca buku Keajaiban Al Qur’an karya Harun Yahya.)
Allah memberi tahu kita tentang hal berikut mengenai Al Qur’an:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Seandainya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan menemukan pertentangan yang banyak di dalammya. (QS An-Nisaa’: 82)
3. PENUTUP
Seperti telah dijelaskan dalam ayat di atas, Al Qur’an memberikan informasi yang akurat. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, semakin banyak keajaiban yang diterangkan di dalam Al Qur’an yang terungkap. Keajaiban-keajaiban Al Qur’an ini membuktikan bahwa Al Qur’an adalah wahyu dari Allah. Di sini, adalah kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkan perintah-perintah Al Qur’an secara seksama. Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada Al Qur’an dalam banyak ayat. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat. (QS Al-An’aam: 155)
…adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. (QS ‘Abasa: 11-12)

read more...

Minggu, 20 September 2009

Dampak Mobilitas Sosial

*Menurut Horton dan Hunt (1987),ada beberapa konsekuensi negative dari adanya mobilitas sosial vertical , antara lain sbg berikut.
1) Kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
2) Ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat
3) Keretakan hubungan antaranggota kelompok primer.
*Adapun dampak mobilitas sosial bagi masyarakat,baik yang bersifat positif
maupun negatif antara lain sbg berikut.

1.Dampak Positif
a) Mendorong seseorang untuk lebih maju
b) Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat kea rah yang lebih baik.
2 .Dampak Negatif
a) Timbulnya konflik
*Konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dapat dibedakan
menjadi 3 bagian,yaitu sebagai berikut.
1) Konflik antarkelas
Dalam masyarakat terdapat kelas-kelas social (stratifikasi social). Apabila terjadi perbedaan kepentingan antar kelas social maka dapat memicu terjadinya konflik antar kelas social
Misal : konflik antara buruh dan pemimpin perusahaan yang menuntut kenaikan upah sehubungan dengan usaha mereka untuk menaikkan pendapatannya yang dapat berpengaruh pada status sosialnya.
2) Konflik antarkelompok sosial
Konflik ini dapat berupa:
a) Konflik antara kelompok sosial yang masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern.
b) Proses suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial lain yang memiliki wewenang.
Misal : konflik antara para tukang ojek dengan para tukang becak dalam pembagian batas daerah penumpang (konsumen).
3) Konflik antargenerasi
a) Berkurangnya Solidaritas Kelompok
Misal : Seorang anak wanita dimarahi bapaknya karena berpakaian seksi,
Dampak lain mobilitas sosial dari faktor psikologis antara lain sebagai berikut.
1. Menimbulkan ketakutan
2. Adanya gangguan psikologis bila seseorang turun dari jabatannya(post power syndrome)
3. Mengalami frustasi.
read more...